Prolog
Hari ini malam terasa sangat menakutkan, angin terasa sangat menusuk tulang dan otak begitu berat untuk berpikir. Dengan hati yang berdebar-debar disertai tatapan mata mengiba, aku berjalan dengan langkah berat menuju salah satu kamar rumah sakit yang begitu ramai ditempati orang. Dari kejauhan dengan langkah kaki mendekati kamar tersebut terdengar jelas di telingaku suara isak tangis seorang wanita. Suaranya sudah tak asing lagi ditelingaku. Aku tahu benar siapa gerangan wanita yang menangis histeris itu. Ia adalah seorang wanita yang berjuang keras melahirkanku, membimbingku dan merawatku. Dialah mamaku.
Sekarang langkah kakiku semakin terasa berat saja, rasanya tak kuat lagi menuju kamar rumah sakit itu. Tapi tiba-tiba tetanggaku yang menjadi petunjuk arahku menoleh ke belakang dan memintaku agar mempercepat langkahku. Rasanya malam itu aku ingin pingsan saja, agar sejenak aku bisa terbebas dari takdir yang tak pernah aku inginkan dan aku impikan.
Saat yang paling tidak aku inginkan sekarang sudah terpampang jelas dihadapanku. Sejenak kuberanikan diri untuk menatap sosok yang memberiku banyak teladan itu, tubuh beliau terlihat tak berdaya dengan tatapannya yang kosong disertai nafas yang dibantu dengan tabung oksigen. Ditambah lagi selang pipa untuk mengeluarkan darah dari tubuh beliau. Walaupun tak berdaya, kulihat tubuh dan raut wajahnya begitu tenang seakan-akan beliau sedang asyik menyaksikan sesuatu yang aku sendiri tak bisa menyaksikannya. Kulit beliau tampak begitu bersih, bercahaya dan kuning langsat. Aku serasa sedang melihat kulit beliau ketika masih remaja, walaupun aku sendiri tak pernah menyaksikan langsung. Karena ketika aku lahir dan mulai mengenal beliau, kata mamaku kulit beliau sudah berwarna cokelat karena sering dinas luar. Mungkin karena sering terkena sinar matahari. Maklumlah beliau adalah seorang PNS. Beliau adalah salah satu sosok yang aku kagumi.
Dari beliau aku mengenal sosok penyabar, tekun, bertanggung jawab, taat beribadah, amanah dan lain-lain. Beliau sering memberiku ilmu yang belum aku ketahui dalam hal ilmu agama. Tapi yang begitu membuat aku begitu antusias mendengarkan nasehatnya adalah karena setiap apa yang beliau ajarkan selalu sesuai dengan apa yang diamalkan. Dengan kata lain ucapan sesuai perbuatan. Itulah beliau menurut pandanganku. Dialah sosok yang sangat aku hormati, sayangi dan kagumi. Dialah nakhkoda kapal yang kami tempati. Dialah sosok panutan terbaik dalam keluargaku. Dialah bapakku.
Rasanya tak sanggup aku memandang beliau lebih lama lagi. Karena selama ini aku sudah terbiasa melihat beliau tersenyum, bukan dengan keadaan tak berdaya seperti ini. Aku paling suka melihat beliau tersenyum atau tertawa. Tapi beliau jarang tertawa, beliau lebih sering tersenyum. Sebenarnya aku sering diam-diam berusaha membuat beliau tersenyum, mulai dari menceritakan beliau hal-hal yang lucu, membawakan beliau ole-oleh sampai menceritakan beliau kisah-kisah nyata. Dan usahaku berhasil. Mungkin banyak yang mengira itu terjadi secara tak disengaja padahal semuanya sudah aku pikirkan. Aku sudah berpikir tentang apa yang akan aku lakukan pada bapakku agar beliau tersenyum. Itu aku lakukan bukan karena bapakku jarang tersenyum. Tapi itu aku lakukan karena ada kepuasan tersendiri ketika beliau tersenyum disebabkan oleh diriku.
Kini wajahku tertunduk lemah menatap putihnya keramik lantai rumah sakit. Ku dengar tangis mamaku mereda dan mulai membisikkan ucapan syahadat pada telinga kanan bapakku secara berulang-ulang. Pikiranku mulai melayang meninggalkan suasana rumah sakit yang dikerumuni orang-orang. Hatiku bertanya, inikah yang disebut sakaratul maut? Kakiku rasanya sudah tak sanggup untuk berdiri menopang tubuhku. Aku duduk di atas keramik putih itu tanpa alas, jilbab yang aku kenakan mulai kugunakan untuk menghapus air mata yang mulai membasahi pipi. Otakku mulai bermunajat pada Tuhan Yang Esa, aku berkata pada Tuhan,
Ya Allah
Ya Tuhanku Yang Esa
Apakah bapakku sedang mengalami sakaratul maut?
Hanya Engkaulah Yang Maha Mengetahui
Ya Allah
Apabila benar bapakku sedang mengalami sakaratul maut
Mohon berilah kemudahan pada beliau semudah-mudahnya
Karena sakaratul maut itu sangat menyakitkan
Mohon berilah beliau kemudahan menghadapinya
Percepatlah waktunya agar beliau tidak menderita
Mohon hilangkanlah rasa sakitnya
Itulah mohonku pada Tuhanku yang terus aku ulang
Tanggal 27 Januari 2011, malam jum'at, semua sesak menyeruak memenuhi setiap nafasku. Tapi aku masih kuat menerima kenyataan ini karena Allah semata. Aku tahu manusia adalah makhluk lemah. Tapi aku tahu juga bahwa Allah lebih menyukai hamba-Nya yang lemah tapi berusaha menjadi kuat.
Ya Allah
Mohon ampunilah segala dosa bapakku
Terimalah amal beliau
Terimalah beliau disisi-Mu
Dan
Mohon golongkanlah beliau beserta hamba-Mu yang sholeh
Yang menjadi penghuni surga
Amin.....
Saat yang paling tidak aku inginkan sekarang sudah terpampang jelas dihadapanku. Sejenak kuberanikan diri untuk menatap sosok yang memberiku banyak teladan itu, tubuh beliau terlihat tak berdaya dengan tatapannya yang kosong disertai nafas yang dibantu dengan tabung oksigen. Ditambah lagi selang pipa untuk mengeluarkan darah dari tubuh beliau. Walaupun tak berdaya, kulihat tubuh dan raut wajahnya begitu tenang seakan-akan beliau sedang asyik menyaksikan sesuatu yang aku sendiri tak bisa menyaksikannya. Kulit beliau tampak begitu bersih, bercahaya dan kuning langsat. Aku serasa sedang melihat kulit beliau ketika masih remaja, walaupun aku sendiri tak pernah menyaksikan langsung. Karena ketika aku lahir dan mulai mengenal beliau, kata mamaku kulit beliau sudah berwarna cokelat karena sering dinas luar. Mungkin karena sering terkena sinar matahari. Maklumlah beliau adalah seorang PNS. Beliau adalah salah satu sosok yang aku kagumi.
Dari beliau aku mengenal sosok penyabar, tekun, bertanggung jawab, taat beribadah, amanah dan lain-lain. Beliau sering memberiku ilmu yang belum aku ketahui dalam hal ilmu agama. Tapi yang begitu membuat aku begitu antusias mendengarkan nasehatnya adalah karena setiap apa yang beliau ajarkan selalu sesuai dengan apa yang diamalkan. Dengan kata lain ucapan sesuai perbuatan. Itulah beliau menurut pandanganku. Dialah sosok yang sangat aku hormati, sayangi dan kagumi. Dialah nakhkoda kapal yang kami tempati. Dialah sosok panutan terbaik dalam keluargaku. Dialah bapakku.
Rasanya tak sanggup aku memandang beliau lebih lama lagi. Karena selama ini aku sudah terbiasa melihat beliau tersenyum, bukan dengan keadaan tak berdaya seperti ini. Aku paling suka melihat beliau tersenyum atau tertawa. Tapi beliau jarang tertawa, beliau lebih sering tersenyum. Sebenarnya aku sering diam-diam berusaha membuat beliau tersenyum, mulai dari menceritakan beliau hal-hal yang lucu, membawakan beliau ole-oleh sampai menceritakan beliau kisah-kisah nyata. Dan usahaku berhasil. Mungkin banyak yang mengira itu terjadi secara tak disengaja padahal semuanya sudah aku pikirkan. Aku sudah berpikir tentang apa yang akan aku lakukan pada bapakku agar beliau tersenyum. Itu aku lakukan bukan karena bapakku jarang tersenyum. Tapi itu aku lakukan karena ada kepuasan tersendiri ketika beliau tersenyum disebabkan oleh diriku.
Kini wajahku tertunduk lemah menatap putihnya keramik lantai rumah sakit. Ku dengar tangis mamaku mereda dan mulai membisikkan ucapan syahadat pada telinga kanan bapakku secara berulang-ulang. Pikiranku mulai melayang meninggalkan suasana rumah sakit yang dikerumuni orang-orang. Hatiku bertanya, inikah yang disebut sakaratul maut? Kakiku rasanya sudah tak sanggup untuk berdiri menopang tubuhku. Aku duduk di atas keramik putih itu tanpa alas, jilbab yang aku kenakan mulai kugunakan untuk menghapus air mata yang mulai membasahi pipi. Otakku mulai bermunajat pada Tuhan Yang Esa, aku berkata pada Tuhan,
Ya Allah
Ya Tuhanku Yang Esa
Apakah bapakku sedang mengalami sakaratul maut?
Hanya Engkaulah Yang Maha Mengetahui
Ya Allah
Apabila benar bapakku sedang mengalami sakaratul maut
Mohon berilah kemudahan pada beliau semudah-mudahnya
Karena sakaratul maut itu sangat menyakitkan
Mohon berilah beliau kemudahan menghadapinya
Percepatlah waktunya agar beliau tidak menderita
Mohon hilangkanlah rasa sakitnya
Itulah mohonku pada Tuhanku yang terus aku ulang
Tanggal 27 Januari 2011, malam jum'at, semua sesak menyeruak memenuhi setiap nafasku. Tapi aku masih kuat menerima kenyataan ini karena Allah semata. Aku tahu manusia adalah makhluk lemah. Tapi aku tahu juga bahwa Allah lebih menyukai hamba-Nya yang lemah tapi berusaha menjadi kuat.
Ya Allah
Mohon ampunilah segala dosa bapakku
Terimalah amal beliau
Terimalah beliau disisi-Mu
Dan
Mohon golongkanlah beliau beserta hamba-Mu yang sholeh
Yang menjadi penghuni surga
Amin.....
*
Satu
Sore itu langit tampak cerah, awan seakan menari-nari ditiup angin. Dan matahari seakan tersenyum manis melihat itu semua. Sementara burung-burung kecil berkicau bersahutan menandakan hari telah sore dan akan menuju senja. Sejak jam di ponselku menunjukkan pukul 4 sore dan kini menunjukkan pukul 5 sore, aku masih duduk gelisah diatas bangku kayu di dekat parkiran kampusku. Hatiku benar-benar sakit hari ini. Ingin rasanya aku pergi ke suatu tempat yang sepi dan berteriak sepuasnya. ingin mengatakan, AKU MEMBENCINYA!!! Tapi sayang... aku tak begitu paham daerah Mataram ini. Aku takut ketika pergi mencari suatu tempat yang sepi malah terjadi hal yang buruk menimpaku. Karena tindakan kejahatan bisa terjadi dimana saja, apalagi tempat sepi sangat berpeluang.
Aku lelah duduk terus di bangku kayu ini seorang diri. Sedangkan teman-teman sibuk bercengkrama dengan teman-teman kampus yang lain. Sebenarnya bisa saja aku bergabung dengan mereka, tapi saat ini aku ingin sendiri. Benar-benar ingin sendiri. Huhh...tubuhku terasa pegal-pegal karena terlalu lama duduk. Aku terpaksa berdiri untuk meregangkan otot-otot kakiku sambil memperhatikan sepedamotor yang berjajar rapi di parkiran. Lagi-lagi tanpa sadar aku melamun. Aku mengingatnya kembali. Mengingat dia yang menyakiti hatiku begitu dalam. Dia yang sempat ku cintai. Tapi kini berusaha untukku benci. Ya..untukku benci. Untukku benci selamanya!
"Fa....sedang apa disini?".
Lamunanku buyar seketika oleh sapa ramah seseorang. Ku alihakan pandanganku ke arah sumber suara tadi.
"Oh...Andi....", sapaku dengan senyum lebar.
"Bukankah tidak ada dosen? kenapa tidak langsung pulang?"tanyanya.
"Hm...Bosen di kos terus"jawabku spontan.
"Andi sendiri kenapa tidak langsung pulang?", tanyaku balik.
"Tadi kami sibuk mengobrol, jadi aku pikir....ingin diam lebih lama di kampus sampai jam 5"
"Oh...berarti sekarang akan pulang ya?"
"Begitulah...baiklah aku pulang dulu".
"Hati-hati di jalan ya..", ucapku.
Andi hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kepadaku dan berjalan menuju parkiran.
Entah kenapa aku senang melihat senyumnya, sebuah senyum yang tulus. Tiba-tiba ada perasaan aneh menghinggapi jiwaku. Aku merasa seperti melihat orang lain pada wajahnya. Wajah seseorang yang aku kenal sebelumnya. Tapi siapa? Siapa orangnya? Ku coba untuk mengingat-ingat wajah itu. Tapi tak berhasil, yang ada kepalaku jadi sakit olehnya.
Lupakanlah, mungkin hanya perasaanku, hiburku dalam hati.
...
Tubuhku rasanya remuk malam ini. Nafsu makanku tiba-tiba menurun. Semangat belajarku juga seakan-akan menguap d'telan atmosfer bumi. Huhh...suasana hati yang tidak menyenangkan. Ada apa denganku? Mengapa jiwaku begitu lemah sjak peristiwa itu? Oh..tidak!!! Aku tidak boleh seperti ini. Tapi aku tidak bisa melupakan peristiwa itu begitu saja. Kisah itu benar-benar menyakitkan. Untuk beberapa menit ini, aku seolah-olah membenci yang namanya lelaki. Oh..tidak. Aku tidak boleh berpikiran seperti itu. Tidak semua laki-laki begitu. Ada juga laki-laki yang baik, sopan dan menghargai wanita. Ya...itu benar. Cukup hanya dia laki-laki penuh tipu daya yang pernah aku kenal.
Aku masih ingat malam itu aku asyik berselancar ria di dunia maya. Melihat status, memberi komentar, me-like status dan lain-lain....Ya, aku tengah asyik mngotak-atik fb-ku. Tepat malam itu juga aku melihat di beranda fb-ku sebuah status baru terpampang jelas. Hatiku begitu sakit melihatnya, sungguh terluka. Jdi selama ini dia membohongiku? Dia jahat, dia tega, dia benar-benar penipu! Aku baru tahu selama ini dia memiliki 2 orang pacar sekaligus. Ya...2 orang sekaligus. Di pulau lombok, aku pacarnya. Sedangkan di pulau Jawa ia memiliki pacar juga. Sungguh! akting yang hebat! Sejak itu tanpa ada kata putus darinya dan dariku, aku sudah menganggap aku sudah putus darinya.
Tiba-tiba tubuhku terasa gemetar, tubuhku terasa dingin sekali. Aku tidak tahu penyebabnya, dan perutku juga terasa mual. Otakku pusing. Semuanya bercampur menjadi satu..menambah penderitaanku. Malam itu aku tidak bisa tidur sedikitpun. Sudah kuputuskan, besok pagi aku harus menelpon mamaku untuk meminta kakakku menjemputku dari Mataram ke Lombok Timur. Karena aku tidak punya tenaga merawat tubuhku sendiri dengan fisikku yang lemah di kota perantauan ini.
*
Dua
Satu bulan berlalu....
Hari ini cuaca mendung, sama seperti perasaanku satu bulan yang lalu. Aku bersyukur, perasaan beku itu telah mencair seiring dengan berjalannya waktu. Entahlah, aku tidak tahu apa yang membuat aku kuat. Aku senang jiwaku tak mengikuti cuaca hari ini.
"Hey......!!!! Ulfa!!!!! Apakah itu kamu????!!!!", seseorang berteriak memanggilku.
Aku menoleh ke arah sumber suara,
"Kau???....Mi..mi..miharu?" ucapku terbata-bata.
Gadis kecil itu terlihat senang bercampur haru ketika aku menyebut namanya. Tanpa sadar ia telah memelukku erat, sangat erat, erat sekali, sampai membuatku sulit bernafas.
"Saudaraku..", hanya kata itu yang terucap dari mulutnya dan air mata mulai membasahi pipinya.
"Ak..aku...ke..kesulitan ber...na..nafas", ucapku terbata-bata lagi.
Tak lama kemudian ia mulai melepaskan pelukannya dan menatapku tajam penuh rasa haru.
"Aku senang, akhirnya bisa menemukanmu", ucapnya lembut.
"Berapa lama?", jawabku. Hanya untuk mencairkan suasana.
Kali ini ia mulai menghapus air matanya dan tersenyum tulus padaku.
"Sejak aku lahir sampai akhirnya aku menemukanmu", jawabnya lirih.
Cessss, aku merasa ada sayatan pedang yang menembus kulitku ketika mendengar ucapannya.
"Jadi, rencananya apa?", tanyaku.
"Secepat itukah?", ia kelihatan kecewa. Aku hanya mengangguk pelan.
"Lebih cepat lebih baik", kataku menegaskan.
"Oh..ada pepatah baru ya?", ia tersenyum nakal. Aku tidak suka senyum itu.
" Bukankah biasanya orang Indonesia mengatakan.... biar lambat asal selamat?",jawabnya seolah menyindirku.
Hari ini aku sedang tidak ingin adu mulut dengannya, aku menghela nafas panjang dan mulai berjalan menjauhinya menuju rumput hijau yang ditata rapi di halaman rektorat Universitas Mataram. Aku duduk bersila di atas rumput itu dan mulai memainkan hp ku yang sedari tadi tak mengeluarkan nada-nada pemberitahuan. Kali ini ia mengikuti langkahku dan mengikuti cara dudukku. Kami diam sejenak dalam pikiran masing-masing.
"Mari kita ceritakan diri kita masing-masing", kali ini ia membuka pembicaraan.
"Bukankah semuanya sudah kita tuliskan di biodata diri masing-masing?"
"Yach....klo begitu...kau tidak mau mengajakku jalan-jalan?"
"Untuk apa?..walaupun dua tahun tinggal di mataram, aku samasekali tidak tahu tempat liburan disini"
"Mengecewakan...Itu berarti aku harus ekstra beradaptasi dengan wilayah ini", kali ini wajahnya terlihat serius.
Entah mengapa ketika melihat wajah seriusnya, aku teringat dengan film korea yang salah satu nama pemainnya bernama Sun. Sifatnya mirip dengan Sun. Ia kuat, pantang menyerah, pintar, cerdas, penuh ide kreatif walaupun ia hidup tanpa ayah dan ibu. Ia hanya tinggal dengan kakek neneknya. Sedangkan aku, sangat rapuh, mudah menyerah, suka menangis, egois, agak kekanak-kanakan, tidak pintar, tidak cerdas dan juga tidak bodoh.
***
Jika mengingat kejadian itu, peristiwa pertama kali aku bertemu dengan Miharu Ishikawa di halaman rektorat Universitas Mataram. Di sore hari yang mendung dan tak ada satupun orang saat itu. Mungkin mereka takut keluar karena berpikir hujan akan segera turun. Entahlah...tapi kejadian itu takkan pernah terlupakan olehku. Inilah babak petualangan baru dari kehidupanku dan kehidupannya yang sesungguhnya. Aku akan menjadi dia dan dia akan menjadi aku.
gw terharu
BalasHapus