Khusus untuk semua lirik lagu, saya hanya memposting lirik lagu yang pernah menjadi kisah saya.
Vocal : Killing Me Inside
semua yang berlalu
telah menjadi kenangan
dan seakan ku lupakan
karena ku tak sejalan
dan tak mungkin ku bertahan
meski telah kucoba
semuanya tak berguna
terbuang sia-sia
dirimu di hatiku
sudah terlalu lama
biarlah...kumencoba
untuk tinggalkan semua
dan tak mungkin kubertahan
meski telah kucoba
smuanya tak berguna
terbuang sia-sia
dirimu di hatiku
sudah terlalu lama
biarlah...kumencoba
untuk tinggalkan semua
dirimu di hatiku
sudah terlalu lama
biarlah... kumencoba
untuk tinggalkan semua
dirimu di hatiku
sudah terlalu lama
dan biarlah... ku mencoba
untuk tinggalkan semua
Thanks Fren atas Kunjungannya
SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA.....
Rabu, 10 Agustus 2011
Mengasah Memori & Mempertajam Ingatan
Referensi : Buku dengan judul Melejitkan Daya Ingat- By: Dr. Muhammad As-Saqa 'Ied- Mesir
1. Membangkitkan Rasa Ingin Tahu
1. Membangkitkan Rasa Ingin Tahu
Keingintahuan untuk mempelajari suatu materi merupakan suatu motivasi utama yang mempercepat penguasaan.
2. Pemilihan Informasi
Harus informasi yang berhubungan dengan pengetahuan yang sedang dipelajari.
3. Meneguhkan Niat Belajar
Katakan"TIDAK"untuk setiap aktivitas di luar schedule.
4. Latar Belakang Pengetahuan Dasar
Seringlah membaca, ANDA tidak sedang membuang waktu karena membaca. Semua itu justru menambah kekayaan pengetahuan dan kekayaan bahasa, yang merupakan sarana transformasi ilmu bagi ANDA.
5. Sistematis dan Dapat Diekspresikan
Yaitu dengan selalu membaca dan mengulangnya hingga hafal. Tentu saja cara ini sangat membosankan, melelahkan, dan menghabiskan waktu. Namun kebanyakan orang-orang pintar, cerdas dan sukses dalam ilmu pengetahuan menggunakan cara ini.
6. Penceritaan kembali
Ini adalah cara tersukses untuk proses transformasi pada ingatan. Karena itu janganlah pernah pelit dalam berbagi ilmu pengetahuan pada orang lain.
7. Pencatatan Informasi
Pencatatan Informasi segera setelah informasi tersebut diterima atau mengikat ilmu dengan tulisan.
8. Latihan Distributif
Dianjurkan dilakukan dalam waktu tidak lebih dari 55 menit dengan waktu istirahat selama 5 menit. Ini penting karena :
a. meminimalisir kelelahan fisik dan mental
b. memotivasi untuk berbuat, karena pembagian kerjanya jelas dengan durasi singkat
c. meminimalisir kebosanan dalam mempelajari materi yang tidak suka
d. jeda istirahat merupakan kesempatan baik bagi otak untuk memantapkan informasi yang telah diterima. Selama jeda jangan melakukan aktivitas berat apapun yang berhubungan dengan otak seperti membalas sms, menelepon, menghayal dan berpikir yang berat. Hal sebaiknya yang dilakukan adalah bermeditasi.
9. Ekspresi Visual
Selain belajar dan mengingat dengan huruf dan angka , juga menggunakan gambar.
10. Penggabungan dan Pengaitan
ANDA harus memperkuat antara informasi baru dengan informasi yang terlebih dahulu ada dalam ingatan Anda. Dengan demikian, informasi baru tersebut dapat bergabung dengan ingatan lama dan menjadi titik megnetis yang sangat kuat dan berfungsi untuk menggabungkan informasi-informasi baru dengan informasi lainnya.
11. Mengulang Pelajaran
Ulangi pelajaran yang sudah dipelajari untuk memperkuat materi sebelum dan sesudah pelajaran.
12. Memohon Perlindungan Kepada Allah dari Godaan Setan yang Terkutuk
Dengan terlebih dahulu membaca "A'uzubillahhiminasyaitannirajimu" sebelum bacaan basmallah.
13. Memulai Segala Sesuatu dengan Bacaan Basmallah
Membaca "Bismillahirrahmaannirrahiim".
14. Selalu Memiliki Daya Konsentrasi yang Tinggi Pada Pengetahuan yang Dihadapi dan Kegiatan yang Dilakukakan.
Daya konsentrasi yang tinggi diperlukan untuk melindungi ingatan dari berbagai macam gangguan luar serta memperjelas ingatan.
15. Keteraturan dan Disiplin dalam Hidup
Keteraturan dan kedisiplinan sangat penting dalam hidup. Karena bila ini tidak ada, maka hidup terasa membingungkan dan kesuksesan sangat sulit di dapat.
16. Senantiasa Setiap Hari Membaca Al-Qur'an
Ini selain ibadah kepada Allah juga sebagai latihan untuk konsentrasi
17. Hanya Memikirkan Hal yang Penting
Gunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk hal yang mengandung manfaat saja, karena TIME IS SWORD.
18. Selalu Merasa Tenang, Aman, Nyaman, Tenteram, dan Sejahtera
Menjalin hubungan sosial bermasyarakat dengan baik, santun dan akhlak terpuji.
19. Selalu Husnuzon atau Berpikir Positif
20. Badan Selalu Sehat
Selalu mengkonsumsi makanan halal menurut Islam [Al-Qu'an dan Sunnah Rasul yang sahih].
21. Selalu Melakukan Amal Kebaikan Karena Allah SWT.
Setiap amal kebaikan yang dilakukan karena Allah semata.
22. Olahraga
Melakukan olahraga minimal 1 kali seminggu. Contoh : lari pagi.
23. Mengkonsumsi Vitamin C, Susu dan Manisan Secukupnya
Vitamin C berfungsi untuk melindungi tubuh dari penyakit pada pembuluh darah di otak, menangkal oksidasi, dan menstimulasi performa otak.
Susu sebaiknya yang mengandung vitamin B12.
Manisan, maksudnya makanan yang mengandung rasa manis karena adanya zat gula. Ini sangat baik untuk kecerdasan otak.
24. Udara Lingkungan Berbau Harum [Bau Aromatherapy]
Contohnya bau-bau alami, contoh bau bunga.
25. Selalu Bersyukur Untuk Setiap Rahmat-Nya
Oleh : Siti Maria Ulfa Al Gufran
Pencatatan Informasi segera setelah informasi tersebut diterima atau mengikat ilmu dengan tulisan.
8. Latihan Distributif
Dianjurkan dilakukan dalam waktu tidak lebih dari 55 menit dengan waktu istirahat selama 5 menit. Ini penting karena :
a. meminimalisir kelelahan fisik dan mental
b. memotivasi untuk berbuat, karena pembagian kerjanya jelas dengan durasi singkat
c. meminimalisir kebosanan dalam mempelajari materi yang tidak suka
d. jeda istirahat merupakan kesempatan baik bagi otak untuk memantapkan informasi yang telah diterima. Selama jeda jangan melakukan aktivitas berat apapun yang berhubungan dengan otak seperti membalas sms, menelepon, menghayal dan berpikir yang berat. Hal sebaiknya yang dilakukan adalah bermeditasi.
9. Ekspresi Visual
Selain belajar dan mengingat dengan huruf dan angka , juga menggunakan gambar.
10. Penggabungan dan Pengaitan
ANDA harus memperkuat antara informasi baru dengan informasi yang terlebih dahulu ada dalam ingatan Anda. Dengan demikian, informasi baru tersebut dapat bergabung dengan ingatan lama dan menjadi titik megnetis yang sangat kuat dan berfungsi untuk menggabungkan informasi-informasi baru dengan informasi lainnya.
11. Mengulang Pelajaran
Ulangi pelajaran yang sudah dipelajari untuk memperkuat materi sebelum dan sesudah pelajaran.
12. Memohon Perlindungan Kepada Allah dari Godaan Setan yang Terkutuk
Dengan terlebih dahulu membaca "A'uzubillahhiminasyaitannirajimu" sebelum bacaan basmallah.
13. Memulai Segala Sesuatu dengan Bacaan Basmallah
Membaca "Bismillahirrahmaannirrahiim".
14. Selalu Memiliki Daya Konsentrasi yang Tinggi Pada Pengetahuan yang Dihadapi dan Kegiatan yang Dilakukakan.
Daya konsentrasi yang tinggi diperlukan untuk melindungi ingatan dari berbagai macam gangguan luar serta memperjelas ingatan.
15. Keteraturan dan Disiplin dalam Hidup
Keteraturan dan kedisiplinan sangat penting dalam hidup. Karena bila ini tidak ada, maka hidup terasa membingungkan dan kesuksesan sangat sulit di dapat.
16. Senantiasa Setiap Hari Membaca Al-Qur'an
Ini selain ibadah kepada Allah juga sebagai latihan untuk konsentrasi
17. Hanya Memikirkan Hal yang Penting
Gunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk hal yang mengandung manfaat saja, karena TIME IS SWORD.
18. Selalu Merasa Tenang, Aman, Nyaman, Tenteram, dan Sejahtera
Menjalin hubungan sosial bermasyarakat dengan baik, santun dan akhlak terpuji.
19. Selalu Husnuzon atau Berpikir Positif
20. Badan Selalu Sehat
Selalu mengkonsumsi makanan halal menurut Islam [Al-Qu'an dan Sunnah Rasul yang sahih].
21. Selalu Melakukan Amal Kebaikan Karena Allah SWT.
Setiap amal kebaikan yang dilakukan karena Allah semata.
22. Olahraga
Melakukan olahraga minimal 1 kali seminggu. Contoh : lari pagi.
23. Mengkonsumsi Vitamin C, Susu dan Manisan Secukupnya
Vitamin C berfungsi untuk melindungi tubuh dari penyakit pada pembuluh darah di otak, menangkal oksidasi, dan menstimulasi performa otak.
Susu sebaiknya yang mengandung vitamin B12.
Manisan, maksudnya makanan yang mengandung rasa manis karena adanya zat gula. Ini sangat baik untuk kecerdasan otak.
24. Udara Lingkungan Berbau Harum [Bau Aromatherapy]
Contohnya bau-bau alami, contoh bau bunga.
25. Selalu Bersyukur Untuk Setiap Rahmat-Nya
Oleh : Siti Maria Ulfa Al Gufran
Senin, 08 Agustus 2011
Dan Nabi Pun Mengerjakan Urusan Rumah Tangga
Oleh : Nur Mursidi
Sumber : Majalah Hidayah Edisi 117-MEI'11Seorang hamba Allah yang terpilih tapi tak segan mengerjakan urusan domestik. Padahal, ia adalah utusan Allah yang memiliki tanggung jawab besar
Dalam Al-Qur'an, Allah dengan gamblang menjelaskan bahwa Rasulullah saw. adalah teladan yang baik (QS. Al-Ahzab [33]: 21). Itu artinya bahwa apa yang disabdakan dan dilakukan Rasulullah bisa dijadikan contoh bagi umat Islam dalam menapaki hidup sehari-hari. Rasulullah itu seorang Nabi, tapi ia juga seorang manusia biasa. Dalam kehidupan rumah tangga, Nabi berperan sebagai seorang laki-laki, ayah dan suami. Lalu bagaimana kehidupan Nabi dalam menjalani kehidupan rumah tangganya--diantara istri dan anak-anaknya?
Rasulullah adalah seorang laki-laki, suami dan ayah teladan bagi seluruh umat manusia. Di luar rumah, ia berperan sebagai seorang panglima perang dan tokoh agama. Tetapi di rumah, ia mampu berperan sebagai suami dan ayah terbaik. Sungguh sempurna! Nabi tak menutup mata dengan apa yang dapat dikerjakan. Rasulullah mau mengerjakan urusan rumah tangga dengan ikhlas. Rasulullah ringan tangan, turut serta mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan istri-istrinya. Hebatnya lagi, meski ia seorang Rasul. Pemimpin umat Islam terkemuka dan panglima perang, tapi ia tak pernah merasa canggung, malu ataupun malas mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dari deretan pekerjaan rumah yang dikerjakan Rasulullah, antara lain ia menjahit pakaian yang sobek, juga membantu memerah susu dan iapun kerap melayani diri sendiri.
Aisyah ra pernah ditanya "Apakah yang dilakukan Rasulullah saw. di dalam rumah?" Aisyah menjawab: "Beliau adalah seorang manusia biasa. Ia menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melayani dirinya sendiri" (HR.Ahmad dan Tirmidzi). Dalam sebuah hadist lain, diriwayatkan dari Al-Aswad bin Yazid, ia berkata: "Aku pernah bertanya pada Aisyah ra: 'Apakah yang biasa dilakukan Rasulullah saw. di dalam rumah?' Aisyah ra. menjawab: "Beliau biasa membantu keluarga, apabila mendengar suara azan, ia segera keluar (untuk menunaikan shalat)" (HR. Muslim).
Jika menyangka bahwa Rasulullah adalah seorang Rasul yang lepas tangan dan tidak mau tahu urusan rumah, itu sepenuhnya salah besar. Sebab, sebagaimana dari teks hadist di atas, Aisyah dengan jelas menceritakan jika Rasul menaruh perhatian terhadap pekerjaaan rumah, bahkan ikut serta menunaikan pekerjaan rumah.
Demikianlah Rasulullah. Ia sosok rendah hati, tidak mau memberatkan tugas istri, turut mengerjakan pekerjaan rumah. Seorang hamba Allah yang terpilih tapi tak segan mengerjakan semua itu. Padahal, ia adalah utusan Allah yang memiliki tanggung jawab besar. Tapi Rasul malah memiliki waktu dan bahkan mau menyisingkan lengan baju untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Sungguh sebuah tauladan mulia yang layak ditiru para suami.
Save My Live
By : Siti Maria Ulfa Al Gufran
Prolog
Hari ini malam terasa sangat menakutkan, angin terasa sangat menusuk tulang dan otak begitu berat untuk berpikir. Dengan hati yang berdebar-debar disertai tatapan mata mengiba, aku berjalan dengan langkah berat menuju salah satu kamar rumah sakit yang begitu ramai ditempati orang. Dari kejauhan dengan langkah kaki mendekati kamar tersebut terdengar jelas di telingaku suara isak tangis seorang wanita. Suaranya sudah tak asing lagi ditelingaku. Aku tahu benar siapa gerangan wanita yang menangis histeris itu. Ia adalah seorang wanita yang berjuang keras melahirkanku, membimbingku dan merawatku. Dialah mamaku.
Sekarang langkah kakiku semakin terasa berat saja, rasanya tak kuat lagi menuju kamar rumah sakit itu. Tapi tiba-tiba tetanggaku yang menjadi petunjuk arahku menoleh ke belakang dan memintaku agar mempercepat langkahku. Rasanya malam itu aku ingin pingsan saja, agar sejenak aku bisa terbebas dari takdir yang tak pernah aku inginkan dan aku impikan.
Saat yang paling tidak aku inginkan sekarang sudah terpampang jelas dihadapanku. Sejenak kuberanikan diri untuk menatap sosok yang memberiku banyak teladan itu, tubuh beliau terlihat tak berdaya dengan tatapannya yang kosong disertai nafas yang dibantu dengan tabung oksigen. Ditambah lagi selang pipa untuk mengeluarkan darah dari tubuh beliau. Walaupun tak berdaya, kulihat tubuh dan raut wajahnya begitu tenang seakan-akan beliau sedang asyik menyaksikan sesuatu yang aku sendiri tak bisa menyaksikannya. Kulit beliau tampak begitu bersih, bercahaya dan kuning langsat. Aku serasa sedang melihat kulit beliau ketika masih remaja, walaupun aku sendiri tak pernah menyaksikan langsung. Karena ketika aku lahir dan mulai mengenal beliau, kata mamaku kulit beliau sudah berwarna cokelat karena sering dinas luar. Mungkin karena sering terkena sinar matahari. Maklumlah beliau adalah seorang PNS. Beliau adalah salah satu sosok yang aku kagumi.
Dari beliau aku mengenal sosok penyabar, tekun, bertanggung jawab, taat beribadah, amanah dan lain-lain. Beliau sering memberiku ilmu yang belum aku ketahui dalam hal ilmu agama. Tapi yang begitu membuat aku begitu antusias mendengarkan nasehatnya adalah karena setiap apa yang beliau ajarkan selalu sesuai dengan apa yang diamalkan. Dengan kata lain ucapan sesuai perbuatan. Itulah beliau menurut pandanganku. Dialah sosok yang sangat aku hormati, sayangi dan kagumi. Dialah nakhkoda kapal yang kami tempati. Dialah sosok panutan terbaik dalam keluargaku. Dialah bapakku.
Rasanya tak sanggup aku memandang beliau lebih lama lagi. Karena selama ini aku sudah terbiasa melihat beliau tersenyum, bukan dengan keadaan tak berdaya seperti ini. Aku paling suka melihat beliau tersenyum atau tertawa. Tapi beliau jarang tertawa, beliau lebih sering tersenyum. Sebenarnya aku sering diam-diam berusaha membuat beliau tersenyum, mulai dari menceritakan beliau hal-hal yang lucu, membawakan beliau ole-oleh sampai menceritakan beliau kisah-kisah nyata. Dan usahaku berhasil. Mungkin banyak yang mengira itu terjadi secara tak disengaja padahal semuanya sudah aku pikirkan. Aku sudah berpikir tentang apa yang akan aku lakukan pada bapakku agar beliau tersenyum. Itu aku lakukan bukan karena bapakku jarang tersenyum. Tapi itu aku lakukan karena ada kepuasan tersendiri ketika beliau tersenyum disebabkan oleh diriku.
Kini wajahku tertunduk lemah menatap putihnya keramik lantai rumah sakit. Ku dengar tangis mamaku mereda dan mulai membisikkan ucapan syahadat pada telinga kanan bapakku secara berulang-ulang. Pikiranku mulai melayang meninggalkan suasana rumah sakit yang dikerumuni orang-orang. Hatiku bertanya, inikah yang disebut sakaratul maut? Kakiku rasanya sudah tak sanggup untuk berdiri menopang tubuhku. Aku duduk di atas keramik putih itu tanpa alas, jilbab yang aku kenakan mulai kugunakan untuk menghapus air mata yang mulai membasahi pipi. Otakku mulai bermunajat pada Tuhan Yang Esa, aku berkata pada Tuhan,
Ya Allah
Ya Tuhanku Yang Esa
Apakah bapakku sedang mengalami sakaratul maut?
Hanya Engkaulah Yang Maha Mengetahui
Ya Allah
Apabila benar bapakku sedang mengalami sakaratul maut
Mohon berilah kemudahan pada beliau semudah-mudahnya
Karena sakaratul maut itu sangat menyakitkan
Mohon berilah beliau kemudahan menghadapinya
Percepatlah waktunya agar beliau tidak menderita
Mohon hilangkanlah rasa sakitnya
Itulah mohonku pada Tuhanku yang terus aku ulang
Tanggal 27 Januari 2011, malam jum'at, semua sesak menyeruak memenuhi setiap nafasku. Tapi aku masih kuat menerima kenyataan ini karena Allah semata. Aku tahu manusia adalah makhluk lemah. Tapi aku tahu juga bahwa Allah lebih menyukai hamba-Nya yang lemah tapi berusaha menjadi kuat.
Ya Allah
Mohon ampunilah segala dosa bapakku
Terimalah amal beliau
Terimalah beliau disisi-Mu
Dan
Mohon golongkanlah beliau beserta hamba-Mu yang sholeh
Yang menjadi penghuni surga
Amin.....
Saat yang paling tidak aku inginkan sekarang sudah terpampang jelas dihadapanku. Sejenak kuberanikan diri untuk menatap sosok yang memberiku banyak teladan itu, tubuh beliau terlihat tak berdaya dengan tatapannya yang kosong disertai nafas yang dibantu dengan tabung oksigen. Ditambah lagi selang pipa untuk mengeluarkan darah dari tubuh beliau. Walaupun tak berdaya, kulihat tubuh dan raut wajahnya begitu tenang seakan-akan beliau sedang asyik menyaksikan sesuatu yang aku sendiri tak bisa menyaksikannya. Kulit beliau tampak begitu bersih, bercahaya dan kuning langsat. Aku serasa sedang melihat kulit beliau ketika masih remaja, walaupun aku sendiri tak pernah menyaksikan langsung. Karena ketika aku lahir dan mulai mengenal beliau, kata mamaku kulit beliau sudah berwarna cokelat karena sering dinas luar. Mungkin karena sering terkena sinar matahari. Maklumlah beliau adalah seorang PNS. Beliau adalah salah satu sosok yang aku kagumi.
Dari beliau aku mengenal sosok penyabar, tekun, bertanggung jawab, taat beribadah, amanah dan lain-lain. Beliau sering memberiku ilmu yang belum aku ketahui dalam hal ilmu agama. Tapi yang begitu membuat aku begitu antusias mendengarkan nasehatnya adalah karena setiap apa yang beliau ajarkan selalu sesuai dengan apa yang diamalkan. Dengan kata lain ucapan sesuai perbuatan. Itulah beliau menurut pandanganku. Dialah sosok yang sangat aku hormati, sayangi dan kagumi. Dialah nakhkoda kapal yang kami tempati. Dialah sosok panutan terbaik dalam keluargaku. Dialah bapakku.
Rasanya tak sanggup aku memandang beliau lebih lama lagi. Karena selama ini aku sudah terbiasa melihat beliau tersenyum, bukan dengan keadaan tak berdaya seperti ini. Aku paling suka melihat beliau tersenyum atau tertawa. Tapi beliau jarang tertawa, beliau lebih sering tersenyum. Sebenarnya aku sering diam-diam berusaha membuat beliau tersenyum, mulai dari menceritakan beliau hal-hal yang lucu, membawakan beliau ole-oleh sampai menceritakan beliau kisah-kisah nyata. Dan usahaku berhasil. Mungkin banyak yang mengira itu terjadi secara tak disengaja padahal semuanya sudah aku pikirkan. Aku sudah berpikir tentang apa yang akan aku lakukan pada bapakku agar beliau tersenyum. Itu aku lakukan bukan karena bapakku jarang tersenyum. Tapi itu aku lakukan karena ada kepuasan tersendiri ketika beliau tersenyum disebabkan oleh diriku.
Kini wajahku tertunduk lemah menatap putihnya keramik lantai rumah sakit. Ku dengar tangis mamaku mereda dan mulai membisikkan ucapan syahadat pada telinga kanan bapakku secara berulang-ulang. Pikiranku mulai melayang meninggalkan suasana rumah sakit yang dikerumuni orang-orang. Hatiku bertanya, inikah yang disebut sakaratul maut? Kakiku rasanya sudah tak sanggup untuk berdiri menopang tubuhku. Aku duduk di atas keramik putih itu tanpa alas, jilbab yang aku kenakan mulai kugunakan untuk menghapus air mata yang mulai membasahi pipi. Otakku mulai bermunajat pada Tuhan Yang Esa, aku berkata pada Tuhan,
Ya Allah
Ya Tuhanku Yang Esa
Apakah bapakku sedang mengalami sakaratul maut?
Hanya Engkaulah Yang Maha Mengetahui
Ya Allah
Apabila benar bapakku sedang mengalami sakaratul maut
Mohon berilah kemudahan pada beliau semudah-mudahnya
Karena sakaratul maut itu sangat menyakitkan
Mohon berilah beliau kemudahan menghadapinya
Percepatlah waktunya agar beliau tidak menderita
Mohon hilangkanlah rasa sakitnya
Itulah mohonku pada Tuhanku yang terus aku ulang
Tanggal 27 Januari 2011, malam jum'at, semua sesak menyeruak memenuhi setiap nafasku. Tapi aku masih kuat menerima kenyataan ini karena Allah semata. Aku tahu manusia adalah makhluk lemah. Tapi aku tahu juga bahwa Allah lebih menyukai hamba-Nya yang lemah tapi berusaha menjadi kuat.
Ya Allah
Mohon ampunilah segala dosa bapakku
Terimalah amal beliau
Terimalah beliau disisi-Mu
Dan
Mohon golongkanlah beliau beserta hamba-Mu yang sholeh
Yang menjadi penghuni surga
Amin.....
*
Satu
Sore itu langit tampak cerah, awan seakan menari-nari ditiup angin. Dan matahari seakan tersenyum manis melihat itu semua. Sementara burung-burung kecil berkicau bersahutan menandakan hari telah sore dan akan menuju senja. Sejak jam di ponselku menunjukkan pukul 4 sore dan kini menunjukkan pukul 5 sore, aku masih duduk gelisah diatas bangku kayu di dekat parkiran kampusku. Hatiku benar-benar sakit hari ini. Ingin rasanya aku pergi ke suatu tempat yang sepi dan berteriak sepuasnya. ingin mengatakan, AKU MEMBENCINYA!!! Tapi sayang... aku tak begitu paham daerah Mataram ini. Aku takut ketika pergi mencari suatu tempat yang sepi malah terjadi hal yang buruk menimpaku. Karena tindakan kejahatan bisa terjadi dimana saja, apalagi tempat sepi sangat berpeluang.
Aku lelah duduk terus di bangku kayu ini seorang diri. Sedangkan teman-teman sibuk bercengkrama dengan teman-teman kampus yang lain. Sebenarnya bisa saja aku bergabung dengan mereka, tapi saat ini aku ingin sendiri. Benar-benar ingin sendiri. Huhh...tubuhku terasa pegal-pegal karena terlalu lama duduk. Aku terpaksa berdiri untuk meregangkan otot-otot kakiku sambil memperhatikan sepedamotor yang berjajar rapi di parkiran. Lagi-lagi tanpa sadar aku melamun. Aku mengingatnya kembali. Mengingat dia yang menyakiti hatiku begitu dalam. Dia yang sempat ku cintai. Tapi kini berusaha untukku benci. Ya..untukku benci. Untukku benci selamanya!
"Fa....sedang apa disini?".
Lamunanku buyar seketika oleh sapa ramah seseorang. Ku alihakan pandanganku ke arah sumber suara tadi.
"Oh...Andi....", sapaku dengan senyum lebar.
"Bukankah tidak ada dosen? kenapa tidak langsung pulang?"tanyanya.
"Hm...Bosen di kos terus"jawabku spontan.
"Andi sendiri kenapa tidak langsung pulang?", tanyaku balik.
"Tadi kami sibuk mengobrol, jadi aku pikir....ingin diam lebih lama di kampus sampai jam 5"
"Oh...berarti sekarang akan pulang ya?"
"Begitulah...baiklah aku pulang dulu".
"Hati-hati di jalan ya..", ucapku.
Andi hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kepadaku dan berjalan menuju parkiran.
Entah kenapa aku senang melihat senyumnya, sebuah senyum yang tulus. Tiba-tiba ada perasaan aneh menghinggapi jiwaku. Aku merasa seperti melihat orang lain pada wajahnya. Wajah seseorang yang aku kenal sebelumnya. Tapi siapa? Siapa orangnya? Ku coba untuk mengingat-ingat wajah itu. Tapi tak berhasil, yang ada kepalaku jadi sakit olehnya.
Lupakanlah, mungkin hanya perasaanku, hiburku dalam hati.
...
Tubuhku rasanya remuk malam ini. Nafsu makanku tiba-tiba menurun. Semangat belajarku juga seakan-akan menguap d'telan atmosfer bumi. Huhh...suasana hati yang tidak menyenangkan. Ada apa denganku? Mengapa jiwaku begitu lemah sjak peristiwa itu? Oh..tidak!!! Aku tidak boleh seperti ini. Tapi aku tidak bisa melupakan peristiwa itu begitu saja. Kisah itu benar-benar menyakitkan. Untuk beberapa menit ini, aku seolah-olah membenci yang namanya lelaki. Oh..tidak. Aku tidak boleh berpikiran seperti itu. Tidak semua laki-laki begitu. Ada juga laki-laki yang baik, sopan dan menghargai wanita. Ya...itu benar. Cukup hanya dia laki-laki penuh tipu daya yang pernah aku kenal.
Aku masih ingat malam itu aku asyik berselancar ria di dunia maya. Melihat status, memberi komentar, me-like status dan lain-lain....Ya, aku tengah asyik mngotak-atik fb-ku. Tepat malam itu juga aku melihat di beranda fb-ku sebuah status baru terpampang jelas. Hatiku begitu sakit melihatnya, sungguh terluka. Jdi selama ini dia membohongiku? Dia jahat, dia tega, dia benar-benar penipu! Aku baru tahu selama ini dia memiliki 2 orang pacar sekaligus. Ya...2 orang sekaligus. Di pulau lombok, aku pacarnya. Sedangkan di pulau Jawa ia memiliki pacar juga. Sungguh! akting yang hebat! Sejak itu tanpa ada kata putus darinya dan dariku, aku sudah menganggap aku sudah putus darinya.
Tiba-tiba tubuhku terasa gemetar, tubuhku terasa dingin sekali. Aku tidak tahu penyebabnya, dan perutku juga terasa mual. Otakku pusing. Semuanya bercampur menjadi satu..menambah penderitaanku. Malam itu aku tidak bisa tidur sedikitpun. Sudah kuputuskan, besok pagi aku harus menelpon mamaku untuk meminta kakakku menjemputku dari Mataram ke Lombok Timur. Karena aku tidak punya tenaga merawat tubuhku sendiri dengan fisikku yang lemah di kota perantauan ini.
*
Dua
Satu bulan berlalu....
Hari ini cuaca mendung, sama seperti perasaanku satu bulan yang lalu. Aku bersyukur, perasaan beku itu telah mencair seiring dengan berjalannya waktu. Entahlah, aku tidak tahu apa yang membuat aku kuat. Aku senang jiwaku tak mengikuti cuaca hari ini.
"Hey......!!!! Ulfa!!!!! Apakah itu kamu????!!!!", seseorang berteriak memanggilku.
Aku menoleh ke arah sumber suara,
"Kau???....Mi..mi..miharu?" ucapku terbata-bata.
Gadis kecil itu terlihat senang bercampur haru ketika aku menyebut namanya. Tanpa sadar ia telah memelukku erat, sangat erat, erat sekali, sampai membuatku sulit bernafas.
"Saudaraku..", hanya kata itu yang terucap dari mulutnya dan air mata mulai membasahi pipinya.
"Ak..aku...ke..kesulitan ber...na..nafas", ucapku terbata-bata lagi.
Tak lama kemudian ia mulai melepaskan pelukannya dan menatapku tajam penuh rasa haru.
"Aku senang, akhirnya bisa menemukanmu", ucapnya lembut.
"Berapa lama?", jawabku. Hanya untuk mencairkan suasana.
Kali ini ia mulai menghapus air matanya dan tersenyum tulus padaku.
"Sejak aku lahir sampai akhirnya aku menemukanmu", jawabnya lirih.
Cessss, aku merasa ada sayatan pedang yang menembus kulitku ketika mendengar ucapannya.
"Jadi, rencananya apa?", tanyaku.
"Secepat itukah?", ia kelihatan kecewa. Aku hanya mengangguk pelan.
"Lebih cepat lebih baik", kataku menegaskan.
"Oh..ada pepatah baru ya?", ia tersenyum nakal. Aku tidak suka senyum itu.
" Bukankah biasanya orang Indonesia mengatakan.... biar lambat asal selamat?",jawabnya seolah menyindirku.
Hari ini aku sedang tidak ingin adu mulut dengannya, aku menghela nafas panjang dan mulai berjalan menjauhinya menuju rumput hijau yang ditata rapi di halaman rektorat Universitas Mataram. Aku duduk bersila di atas rumput itu dan mulai memainkan hp ku yang sedari tadi tak mengeluarkan nada-nada pemberitahuan. Kali ini ia mengikuti langkahku dan mengikuti cara dudukku. Kami diam sejenak dalam pikiran masing-masing.
"Mari kita ceritakan diri kita masing-masing", kali ini ia membuka pembicaraan.
"Bukankah semuanya sudah kita tuliskan di biodata diri masing-masing?"
"Yach....klo begitu...kau tidak mau mengajakku jalan-jalan?"
"Untuk apa?..walaupun dua tahun tinggal di mataram, aku samasekali tidak tahu tempat liburan disini"
"Mengecewakan...Itu berarti aku harus ekstra beradaptasi dengan wilayah ini", kali ini wajahnya terlihat serius.
Entah mengapa ketika melihat wajah seriusnya, aku teringat dengan film korea yang salah satu nama pemainnya bernama Sun. Sifatnya mirip dengan Sun. Ia kuat, pantang menyerah, pintar, cerdas, penuh ide kreatif walaupun ia hidup tanpa ayah dan ibu. Ia hanya tinggal dengan kakek neneknya. Sedangkan aku, sangat rapuh, mudah menyerah, suka menangis, egois, agak kekanak-kanakan, tidak pintar, tidak cerdas dan juga tidak bodoh.
***
Jika mengingat kejadian itu, peristiwa pertama kali aku bertemu dengan Miharu Ishikawa di halaman rektorat Universitas Mataram. Di sore hari yang mendung dan tak ada satupun orang saat itu. Mungkin mereka takut keluar karena berpikir hujan akan segera turun. Entahlah...tapi kejadian itu takkan pernah terlupakan olehku. Inilah babak petualangan baru dari kehidupanku dan kehidupannya yang sesungguhnya. Aku akan menjadi dia dan dia akan menjadi aku.
Entahlah
Entahlah...
Telah sekian kali ku yakinkan diriku
Bahwa dirimu memang mencintaiku
Mungkinkah...
Kau tahu
Kisah yang mengalir diantara kata-kata
Itu kisah cinta
Antara kau dan dia-dia
Kau tahu...
Rembulan itu begitu indah
Meski tak seindah diriku
Yang terakhir kali
Untuk kau ingat
Kasih...
Aku lihat wajahmu
Diantara kasatraya
Aku dengar suaramu
Diantara nada-nada cinta
Tapi keyakinanku masih menerawang
Kasih...
Apakah hari ini masih kau simpan cintaku cintamu?
Bagaikan cinta yang menyentuh sanubariku
Hulf...
Andai saja bisa
Inginku tahu kebenaran itu
Oleh : Siti Maria Ulfa Al Gufran
Telah sekian kali ku yakinkan diriku
Bahwa dirimu memang mencintaiku
Mungkinkah...
Kau tahu
Kisah yang mengalir diantara kata-kata
Itu kisah cinta
Antara kau dan dia-dia
Kau tahu...
Rembulan itu begitu indah
Meski tak seindah diriku
Yang terakhir kali
Untuk kau ingat
Kasih...
Aku lihat wajahmu
Diantara kasatraya
Aku dengar suaramu
Diantara nada-nada cinta
Tapi keyakinanku masih menerawang
Kasih...
Apakah hari ini masih kau simpan cintaku cintamu?
Bagaikan cinta yang menyentuh sanubariku
Hulf...
Andai saja bisa
Inginku tahu kebenaran itu
Oleh : Siti Maria Ulfa Al Gufran
Langganan:
Postingan (Atom)